Selasa, 09 Juni 2009

Sedia payung aqidah sebelum hujan

Hujan masih saja mengguyur banyak wilayah di negeri ini. Bahkan, di sebagian daerah, air meluap dan banjir pun tak tertahankan. Tanah longsor juga melanda beberapa tempat. Namanya musibah, sudah tentu menyisakan banyak masalah bagi para korban bencana.
Sungguhpun demikian, ketegaran sangat dituntut dalam menghadapi bencana-bencana tersebut. Seorang muslim mesti menerimanya dengan hati sabar, lapang dada, dan pasrah diri kepada Allah al-Khaaliq dengan totalitas, bertambah mendekatkan diri kepada Rabbnya, introspeksi diri dalam kesendirian. 
Sebab, tidak ada perbuatan dan ketetapan Allah yang jelek. Semua kejadian pasti mengandung hikmah, yang sekarang lazim disebut rahasia Ilahi, baik kita ketahui atau tidak. Supaya manusia ingat terhadap penguasa alam semesta.  

Nyatanya, tindakan-tindakan kurang tepat dalam 'menyongsong' dan merespon bencana di musim hujan masih berkembang bebas di sebagian masyarakat. Di antaranya, sebagai berikut: 

1. Mengaitkan penyebab banjir dengan  gejala alam
Kian jauh seseorang dari agama, hanya akan memperburuk perjalanan hidupnya. Karena, ajaran-ajaran Islam, cahaya bagi  hati manusia. Dengan itu, langkah-langkahnya akan terarah pada tujuan pasti, kebaikan dunia dan akhirat.     

Akan lebih parah lagi, manakala aqidah (keyakinan) yang tertanam di hati seseorang tidak benar. Di antara dampak negatifnya, mengait-ngaitkan musibah dan bencana hanya kepada kekuatan alam.

Inilah yang berbahaya, sangat berbahaya. Curah hujan (yang terkadang mendatangkan banjir), cuma dikait-kaitkan dengan gejala alam global. Entah itu karena si angin Elnino, badai pemanasan global, salju di kutub yang mencair, atau tumpukan sampah yang menyumbat sungai, de el el. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula!

Seolah-olah, tidak ada peran Allah l pada bencana dan musibah yang sedang melanda. Padahal, hakikatnya, tidak ada sesuatu pun kejadian yang luput dari kehendak Allah Ta'ala, yang pasti memuat kandungan hikmah Ilahi. Allah subhanahau wa ta'ala berfirman,

"Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (Al-Hadid/ 57:22)

2. Mengkritisi turunnya hujan
Datangnya hujan termasuk perkara ghaib. Manusia hanya bisa memperkirakan kedatangannya melalui tanda-tandanya. Itu pun tanpa sanggup memastikan. Karena waktu kehadirannya tidak menentu. Awan gelap pun tidak mesti jatuh menjadi titik-titik air hujan. Mendung tak mesti hujan, kata orang. Sebaliknya, saat cuaca cerah, hujan bisa turun dengan tiba-tiba.

Manakala hujan benar-benar turun, orang-orang menjadi terhenyak. Apalagi bila tanpa diawali tanda-tanda. Langit sangat cerah. Pejalan kaki berlarian. Begitu pula orang-orang yang di rumah, berlarian menuju jemuran untuk menyelamatkannya. Pakaian-pakaian yang hampir (sudah) kering) pun belum bisa dirapikan langsung. Sebab, terkena cucuran air hujan. Di detik-detik itulah, ketika manusia merasa terusik dengan kehadiran hujan, muncul ungkapan-ungkapan yang tidak sepantasnya keluar dari bibir. Mbok ya, turunnya nanti kalau jemuran dah kering semuanya, kalau acara dah selesai…(?!)

Ketentuan Allah al-Hakim Yang Maha Bijaksana yang telah menurunkan hujan tidak mengandung hikmah sama sekali.

Komentar apa pun, tidak akan menunda waktu turunnya hujan. Karena bila sudah ditakdirkan turun pada waktu tertentu, tidak ada kekuatan apapun sanggup mengundurkan ketetapan Allah l, sekalipun orang yang disebut pawang hujan. Kamu marah, jadwal turunnya hujan tidak berubah.  Kamu murka hujan tidak serta merta mereda.  Kamu meradang, hujan tetap saja datang… Kamu mengeluh, itu tidak menahan titik-titik hujan jatuh. 
     
3. Mencela angin 
Tidak jarang di musim hujan, angin bertiup kencang. Bahkan angin yang sering disebut puting beliung, sanggup merobohkan pohon besar, meluluhlantakkan rumah, menerbangkan genting-genting dan benda-benda yang dilewatinya. Memang itu kejadian yang mengerikan. Apalagi jika menimpa diri kita. Nas`aullahah 'aafiyah.

Celaan kepada angin bukan solusi. Mencela angin itu dilarang oleh agama. Karena bagaimanapun angin adalah makhluk yang tidak bergerak dengan sendirinya, tapi atas perintah Allah Rabbul Alamin. Tentang ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencela angina.”

Ia adalah makhluk yang taat kepada Allah l dan merupakan pasukan-Nya. Allah menjadikannya sebagai rahmat dan siksa kalau menghendaki. Manakala seorang muslim mengkhawatirkan terjadinya sesuatu yang tidak mengenakkan akibat pusaran angin yang kencang, Rasulullah n telah memberi petunjuk untuk menghadapinya. Yaitu dengan memanjatkan doa kepada Allah, Dzat yang mengirim angin itu, memohon kebaikan dari angin ini dan memohon perlindungan kepada-Nya dari keburukannya.
    
4. Tolak balak dengan praktek syirik
Ada lagi tindakan yang lebih parah, mencoba menghindari bala dan cobaan dengan praktek-praktek yang mengandung kesyirikan. Entah yang disebut ruwatan massal, melarung kepala kerbau di bibir pantai, persembahan aneka sesaji ke tempat-tempat keramat, dan masih ada seabreg contoh lainnya.

Cara-cara di atas justru akan mendatangkan kemurkaan Allah l yang telah mengirim bencana bagi manusia. Allah sudah menjelaskan bagaimana cara terbaik dalam menghadapi bencana. Memperbaiki dan memurnikan tauhid kepada Allah, melantunkan istighfar banyak-banyak, berdoa sepenuh hati (dengan ikhlas) kepada Allah dan mengingat Allah saat kondisi enak dan nyaman. Itu di antara cara efektif untuk mensegerakan terangkatnya musibah yang sedang melanda.  

Dalam doa-doa yang dilantunkan oleh Rasulullah manakala sedang dirundung kesulitan, masalah genting, termuat unsur pemurnian ubudiyah (penghambaan diri yang kental kepada Allah l, pengakuan bahwa Allah lah Dzat yang sanggup menuntaskan masalah. Karena Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Kuasa untuk menghindarkan umat manusia dari bahaya dan musibah. 

Intinya, bahwa aqidah mesti dijaga dan dipelihara. Kekuasaan dan ketentuan Allah l, bukan obyek untuk dikritisi. Kewajiban manusia dalam menghadapi takdir yang tidak baik di matanya, ialah bersabar dan berserah diri. Jangan akidah yang merupakan bagian termahal dalam hidup kita sampai terkikis oleh tingkah laku kita sendiri, sadar atau tak disadari. Karena itu, kita harus sedia payung aqidah sebelum hujan". Wallahu a'lam. 
(Ust. Abu M, Lc)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar