Selasa, 09 Juni 2009

Masjid Turki di Negeri Sakura

Hari jum'at itu, alhamdulillah, tugas-tugas kampus telah selesai. Mumpung hari Jum'at, saya mau jalan-jalan ke Tokyo mengunjungi Baitullah yang sudah lama tidak saya kunjungi. Jepang berbeda dengan Indonesia, di sini susah cari masjid. Adanya masjid cuma di kota-kota besar saja seperti Tokyo, Yokohama, Kobe, Kyoto, dan sebagainya.

Mau tau cara nyari masjid di Jepang? Gampang, tinggal buka internet saja, masukkan kata kunci Japan Mosque di dalam search engine. Banzai! 1Akan muncul serangkaian informasi tentang masjid-masjid tersebut. Itulah gunanya jadi muslim yang tidak gaptek.

Saya pilih masjid di Tokyo karena letaknya tidak begitu jauh dari Yokohama, sekitar 1 jam naik Cikatetsu2, harga tiketnya pun murah sekitar 700 yen pergi-pulang, juga paling nyaman jika dibanding transportasi publik lainnya. Klik punya klik, akhirnya saya tertarik pada sebuah masjid yang dibangun oleh Perkumpulan Orang Turki di Jepang, arsitek bangunannya sangat memukau.

Masjid ini namanya Masjid Camii, bangunannya jadi satu dengan perkantoran Turkish Culture Center. Lantai bawah untuk kantor, lantai atas untuk shalat. Masjid ini dibangun pertama kali tahun 1938 oleh Abdulhay Kurban Ali and Abdurresid Ibrahim, lalu direnovasi tahun 1998 oleh Muharrem Hilmi Senalp, koordinator proyek Sumio Ito dan Akira Wakabayasi (Jepang) serta Sami Goren (Turki).

O iya, sebelum ke detail Masjidnya, saya ingin cerita sedikit tentang cara menuju kesana. 
Sebelum menuju suatu tempat di Jepang cek dulu minimal tiga hal: rute perjalanan, prakiraan cuaca, dan perbekalan yang harus dibawa. Rute perjalanan bisa dicari di internet, contohnya http://www.jorudan.co.jp/english/ untuk rute kereta api, karena saya tinggal dekat stasiun Bashamichi dan Masjid Camii dekat stasiun Yoyogi-Uehara. Masukkan saja nama kedua stasiun itu, nanti akan muncul rute kereta api yang harus kita lalui lengkap dengan jadwal kereta, waktu tempuh dan juga harga tiket. Lengkap bukan?

Prakiraan cuaca harus dicek (misal http://weather.yahoo.co.jp) agar tidak saltum alias salah kostum -harusnya panas malah pake jaket lengkap, atau sebaliknya- perlu bawa payung ato tidak jika diperkirakan hujan. Walau sekedar prakiraan cuaca (sebab yang menentukan cuaca hanyalah Allahl semata), errornya kecil berdasar statistic yg ada. Bedanya lagi, prakiraan cuaca disini dibuat tiap jam mengingat cepatnya perubahan cuaca di Jepang.

Setelah semua informasi cukup, jangan lupa di print. Pelajar disini kalo ngeprint gratis (laser berwarna lagi) tapi kalo fotokopi malah bayar 10 yen per lembar (900 rupiah per lembar). Setelah itu, saya jalan kaki menuju Bashamichi-eki 3 sekitar 5 menit dari Yokohama International Center tempat saya tinggal. Naik Chikatetsu jurusan Yoyogi-Uehara, saya gak usah beli tiket di mesin tiket, sebab saya sudah punya ticket-card pra-bayar. 
Tinggal sentuh ticket-card di palang pintu otomatis, tiit…saya bisa masuk stasiun. Jangan lupa cek platform (tempat naik) kereta sesuai jurusan kita, agar tidak salah naik trus nyasar ke tempat antah berantah.

ImageAkhirnya saya sampai di Masjid Camii dengan izin Alloh kemudian bantuan peta dari internet.
Subhanallah…dari kejauhan sudah nampak kecantikan Baitullah itu. Pas mau masuk, saya mau lepas sepatu, eit tapi ditegur oleh seseorang, "Jangan dilepas mas, ini perkantoran, nglepasnya di atas saja, di tempat shalat." begitulah kira-kira terjemahan bebasnya. Bersih, indah, dan mengagumkan…itulah yang terbetik di hati saya ketika menyusuri sudut-sudut gedung ini. Lantai dan dinding marmer, lukisan khas timur tengah berwarna warni di atap ruang plus dengan warna emasnya, ornament simetris pemandangan dan tetumbuhan menghiasi sudut langit-langit, juga lengkungan-lengkungan bangunan khas arsitek Islam.

Tepat jam 12.30 waktu setempat, adzan berkumandang. Mulailah shalat Jum'at. Khutbah disampaikan dalam tiga bahasa, pertama, pake bahasa Jepang, kemudian disambung dengan bahasa Inggris, terakhir dengan bahasa Urdu. Masing-masing khutbah berdurasi 7-8 menit, jadi total khutbah 21-24 menit. Hari itu khutbahnya tentang "Tujuan Pernikahan dalam Islam". Lalu iqomat, lalu shalat jum'at berjamaah dua rakaat.

Di sana saya bertemu muslimin dari berbagai negara, tak heran khutbahnya tiga bahasa, ada yang dari Jepang (tentu), Afrika, dan Eropa, tak lupa Indonesia.

Sepulang dari Masjid Camii, banyak hikmah yg bisa penulis ambil. Minimal hati ini kembali tersirami oleh sejuknya iman. Setelah sekian lama hati ini tidak bergetar merasakan Kalamullah live dari lisan imam yang fasih bacaannya…setelah sekian lama…waktu ini tidak terluang hanya untuk beribadah kepada-Nya semata.

1. Banzai: hore!   2. Cikatetsu: kereta api bawah tanah    3. Bashamichi-eki: stasiun Bashamichi, eki: stasiun.

(M. A. Bramantya, School of Integrated Design Engineering, KEIO University, Yokohama, Japan) 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar